Setiap manusia dimuka bumi
ini terlahir karena Allah, agar senantiasa bertasbih dan taat kepada-Nya.
Terkadang kita merasa bahwa hidup ini tak sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Kita mengeluh akan hidup, sesuatu yang kita anggap ujian bahkan cobaan. Tetapi,
kita tidak pernah menyadari bahwa mungkin ini juga teguran yang Allah tunjukan
kepada kita agar kita menyadari kesalahan yang kita perbuat.
Bersyukur adalah menerima
dengan tulus dan ikhlas segala sesuatu yang menimpa atau datang pada dirinya
meskipun dalam keadaan baik maupun buruk.
Bersyukur pada hakikatnya
merupakan suatu konsekuensi logis yang dapat dinalar oleh setiap manusia kepada
Allah sebagai Tuhan-nya yang menciptakan dan melimpahkan berbagai kenikmatan
yang telah kita rasakan tetapi kita terkadang buta akan rasa syukur tersebut
terlebihi kita sering terlupa bahkan melupakannya.
Sesungguhnya kalo kita menghitung nikmat yang telah Allah berikan pada kita, sungguh kita tidak bisa menghitungnya. tak perlu melihat
nikmat yang tidak tertampakkan oleh kita. ambillah contoh yang paling
sederhana, saat kita membukakan mata
dari bangun tidur. berapa kali banyaknya mata kita berkedip. Sudah pasti
tak terhitung jumlahnya . dalam satu jam saja kita melihat, sudah tak terhitung
berapa banyak Allah berikan nikmat kepada kita. bayangkan saja jika selama 1
jam saja kita tidak berkedip, apa yang akan terjadi dengan mata kita? Sudah
tentu pasti, mata akan merah, perih, bahkan mengeluarkan air mata. Dari
kejadian ini kita dapat mengambil pelajaran bagaimana tersiksanya hidup kita
jika kita tidak mampu untuk mensyukurinya.
Kandungan dari ayat tersebut
Mengandung sejarah. diceritakan ada orang yang sudah berumur hingga 500 tahun.
Selama hidupnya, dia taat kepada Allah. Selalu beribadah dan beribadah didalam
kehidupan sehari-hariannya. Maksiat-maksiat dan mangkarot lain pun ia jauhi
sehingga orang tersebut mendapatkan tittle orang yang bertakwa kepada Allah SWT
akan tetapi dia mempunyai hati yang sombong seakan-akan dia sudah mendapatkan
jaminan masuk surga melalui hasil ibadahnya yang ia lakukan selama hidupnya di
umur 500 tahun tersebut. Begitu dihisab, di dalam timbangan hisaban ibadah yang
ia lakukan selama hidupnya dengan timbangan 1 mata yang Allah berikan pada
dirinya . ternyata, setelah ditimbang mata lebih berat dari pada hasil ibadah
orang tersebut di dalam hidupnya . akhirnya orang tersebut tidak bisa masuk
surga karena kesombongannya. walaupun kehidupannya dengan umur yang sangat
panjang selalu beribadah kepada Allah SWT. Artinya mensyukuri nikmat Allah itu lebih utama
walaupun ibadahnya sedikit dibandingkan orang yang ibadahnya banyak tetapi
tidak bersyukur di dalam hidupnya. dikarenakan semua yang datang pada dirinya
adalah kehendak Allah SWT. (Asbabul nujul/riwayat turunnya surat An-Nahl diceritakan
oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya.)
Maka jelas, tak mampu mensyukuri
nikmat Allah maka akan disiksa dengan siksaan yang pedih.
Maka dengan itu lahirlah ayat firman Allah yang lain :
“Sungguh barang siapa yang
mensyukuri nikmatku maka akan bertambah nikmatnya dan barang siapa kufur akan
nikmatku maka akan kuberi siksaan yang pedih”(Q.S Ibrahim : 7)
Tak terpungkiri lagi, kita
sering mengukur suatu nikmat dengan ukuran kita sendiri , artinya jika
keinginan terpenuhi, maka ia akan mudah bersyukur sebaliknya jika keinginan
tersebut belum terkabulkan, maka ia enggan untuk bersyukur. Kita selalu
melihat sesuatu dari sudut pandang yang salah, menitikberatkan pada pandangan
orang lain yang mendapatkan nikmat lebih banyak. Tapi kita tak terpedaya oleh
orang-orang disekitar kita yang bahkan keadaannya lebih buruk dari pada kita
saat ini. Maka cobalah untuk melihat orang yang kurang beruntung dari pada kita
sehingga kita dapat mengambil pelajaran dari itu semua.
Rasulullah mengajarkan:
“apabila seseorang diantara
kamu melihat orang yang dilebihkan Allah dalam hal harta benda dan bentuk rupa.
Maka hendaklah ia melihat kepada orang-orang yang lebih rendah dari pada
dirinya.”
Jika kita memandang segala hal yang dimiliki itu adalah hasil usaha sendiri. perilaku ini sangat menumbuhkan sifat kikir,
sombong, dan melupakan Allah sebagai pemberi nikmat tersebut. Padahal kita tahu
bahwa tak ada satu nikmat pun yang tak luput dari pemberiannya dan tak datang
dengan sendirinya.
Sudahkan kita mensyukuri
semua nikmat yang kita dapatkan?
Mantaabbb
ReplyDelete