Friday, 1 June 2018

Fenomena Bersyukur_Merasa Frustasi


Fenomena Bersyukur merupakan hal yang tidak asing lagi bagi kebanyakan orang. Kenapa? Karena hal itu sudah mendarah daging dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan hanya satu hari atau dua hari saja, sampai saat ini pun keadaan bersyukur masih menggeluti kita semua. Entah permasalahan yang ada di dalam jiwa atau tentang bagaimana cara kita bisa menyikapinya.

Berikut ini akan saya paparkan sebuah kisah nyata tentang bagaimana seorang muslimah  bekerja di sebuah Butik Fashion wanita yang  dalam menjalani hidupnya kurang mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Meskipun begitu nama yang tertera bukan nama aslinya, itu hanya sekedar nama samara belaka.
 “Yah, gimana sih ini, kamu kerja yang bener dong!” salak sang atasan wanita itu sebut saja namanya nenti

“Udah saya bersihin ko itu?”Jawabku singkat sembari menunjukkan lantai yang sudah di sapunya, sebut saja namanya adalah Siti
“Tuh lihat, debunya masih di mana-mana. Kamu nyapunya bagaimana?” ketus nenti
“Ya nyapu seperti biasa, emang nyapu yang gimana lagi” jawab siti yang menjadi kesal atas sikap nenti tersebut.

Ia pun akhirnya pergi ke gudang penyimpanan, menaruh sapu dan pengkinya tersebut. Kembali dari gudang atasannya yang lain memanggilnya, sebut saja namanya kia.

“Siti, ayo kesini” ucap kia sembari melambaikan tangannya menuju ke arah Siti.
“Iya ka, ada apa?”Tanyanya heran sambil bergegas menghampiri Kia
“Nih gunting (sambil menyodorkan gunting ke arah Siti) dari pada kamu bengong lebih baik kamu lihat baju-baju displaynya ada yang lebih benang jahitnya atau tidak, kalau ada kamu gunting pakai ini, ngerti kan?” jelasnya.
“Iya ka mengerti” Sahut Siti sambil mengambil gunting dari tangan Kia tersebut.

Siti yang mendapat tugas itu pun langsung menjalankan tuganya. Ia memeriksa seluruh baju yang ada di tokonya satu per satu. Sehabis membuang jahitan lebih tersebut Ia pun diajarkan berbagai macam hal yang harus dia ketahui di dalam toko tersebut. Mulai dari bagaimana memasang hanger pakaian, melipat pakaian, memasang pakaian di patung bahkan sampai kode produk harga dan segala ukuran baju tersebut.

Suatu hari, Ia melakukan sebuah kesalahan dalam menjalankan tugasnya, Ia terlupa akan ketentuan bahwa setiap konsumen hanya boleh memasukkan tiga buah pakaian kedalam ruang ganti. Tanpa sengaja ia memasukkan lebih dari ketentuan tersebut, bahkan ia tidak tahu apa barang yang di berikan kepada konsumen tersebut kembali ke tangannya atau tidak karena ia lupa berapa jumlah pakaian tersebut. Kemudian Ia pun mendapat teguran dari atasannya.

Sampai hati perkataan atasannya tersebut menggeluti hatinya, Siti lalu menangis tersedu-sedu setelah shalat di dalam ruangan ganti konsumen. Suaranya yang begitu amat keras terdegar oleh Kasir jaga saat itu, anggap saja Mita namanya. Mita yang mendengar tangisan di ruang ganti pun lalu menghampirinya  dan mendapati Siti ada di dalamnya. Setelah itu, Mita yang penasaran dengan tangisan siti menanyakan apa yang terjadi. Siti pun menjelaskan dengan rinci permasalahan yang tadi ia alami. Ia takut bahwa konsumen tersebut mengambil pakaian yang di cobanya dan takut akan amarah atasannya tersebut.

Mita yang mendengarkan penjelasan Siti pun langsung menenagkannya dan menegur Kia serta Nenti yang memarahi Siti terlalu kasar. Mereka berdua langsung menghampirinya dan meminta maaf akan kesalahannya, Siti akhirnya juga memaafkannya. Akan tetapi, di dalam hati Siti terdapat gejolak perasaan Frustasi akan pekerjaan yang Ia jalani. Ia pulang dengan pikiran penuh kekesalan dan kegundahan hati.

Keesokan harinya, Siti mendapatkan pesan bahwa Ia di mutasi ke toko yang ada di sekitar Jakarta yang tidak jauh dari rumahnya. Ia mendapatkan suasana baru, orang baru dan peraturan baru yang didapatkannya dari atasannya tersebut.

Atasannya di sini sebut saja  mia dan sinta, mereka atasan yang tidak begitu mengatur dan bahkan Siti yang sebelumnya sempat merasa frustasi akhirnya merasa senang bekerja di tempat ini.

3 bulan berselang, datanglah karyawan baru di perusahaan itu, namanya bisa di panggil kina.. Karyawan ini juga sama-sama mutasi dari toko tempat Siti sebelumnya. Awalnya mereka Nampak akrab, semuanya berjalan sesuai keinginannya. Tidak lama setelah itu, Datanglah karyawan baru lagi ke toko tersebut sebut saja namanya rina, karena saat itu akan ada bazar besar-besaran di Mall yang ia tempati. Siti dan kedua rekannya itu tampak akrab dan saling membantu.

Kemudia sebulan berlalu, supervisor di perusahaan itu datang ke toko dan mengumumkan bahwa kina akan mendapatkan promosi jabatan sebagai seorang Kasir. Siti yang mendengar ucapan sang Supervisor tersebut merasa tersinggung. Dia bertanya-tanya di dalam hatinya kenapa harus Kina yang mendapatkan promosi jabatan tersebut, padahal Ia yang bekerja di sana lebih lama. Hatinya penuh dengan rasa iri dan kebencian terhadap Kina. Semakin hari Ia melihat Kina belajar menjadi seorang kasir , semakin bertumbuh rasa kebencian itu di dalam hatinya. Siti yang sudah tidak tahan dengan keadaan yang membuatnya frustasi lalu mengatakan kepada Rina bahwa Kina seharusnya tidak mendapatkan promosi itu,” toh.. saya yang lebih dulu bekerja di sini”

Begitulah awal mula api yang membara menggebu-gebu. Tak lama setelah Siti menjelek-jelekkan Kina di hadapan Rina. Ternyata Rina adalah orang yang tidak bisa dipercaya, padahal Ia telah berpesan agar tidak memberi tahu siapa pun.

Kina yang mendengar ucapan Siti tentangnya tersebut langsung menghampiri Siti. Mereka berdua beradu argumen yang sangat keras sampai tetangga sepertokoannya mendengar ucapan mereka itu. Mia dan Sinta lalu mereraikan pertikaian mereka berdua.

Beberapa hari kemudian, mereka Nampak masih saling berdiam diri, enggan rasanya untuk saling meminta maaf. Keadaan yang renggang masih terlihat di antara mereka berdua. Di tambah Rina yang mengadu domba mereka tidak masuk selama beberapa hari dengan alasan sedang datang bulan yang sangat sakit sehingga menyebabkan Ia tidak bisa masuk bekerja.

Keadaan pun semakin bergejolak di dalam hati Siti. Ia semakin tidak merasa nyaman bekerja di tempat tersebut. Apalagi Rina yang membuat Siti sangat kecewa sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Setiap hari Siti melayani konsumen dengan hati yang gelisah dan tatapan yang kosong. Ia merasa frustasi akan pekerjaan yang dijalaninya. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk melanjutkan hidup jika seperti ini caranya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya yang sudah begitu baik untuknya dan lebih memilih melanjutkan pendidikan yang belum tentu akan memberikan ia sesuatu yang lebih dari yang dia punya.

Dari gambaran cerita Siti di atas dapat kita simpulkan bahwa Siti ini memiliki sifat yang keras kepala, egois dan iri hati. Hal in jauh dari kategori sebagai seorang muslim yang pandai bersyukur. Sedikitpun tidak terdapat rasa nikmat yang meliputi hatinya. Hanya pikiran negatif yang selalu membayangi kehidupannya. Ia buta akan nikmat yang sudah ia jalani selama hidupnya. Untuk itu, kita sebagai kaum yang mengakui kecintaan kita terhadap Allah SWT. beserta Nabi Muhammd SAW. Agar senantiasa menumbuhkan semangat, pikiran positif dan jiwa yang selalu mensyukuri nikmat yang didapatkan.

No comments:

Post a Comment

Yuk, mulai bersyukur!!

Setiap manusia adalah cobaan bagi manusia lainnya. Kita diberikan kehidupan agar  mampu melihat nikmat dari segala sisi. kehidupan layak...