Fenomena
Bersyukur merupakan hal yang tidak asing lagi bagi kebanyakan orang. Kenapa? Karena
hal itu sudah mendarah daging dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan hanya
satu hari atau dua hari saja, sampai saat ini pun keadaan bersyukur masih menggeluti
kita semua. Entah permasalahan yang ada di dalam jiwa atau tentang bagaimana
cara kita bisa menyikapinya.
Berikut
ini akan saya paparkan sebuah kisah nyata tentang bagaimana seorang muslimah bekerja di sebuah Butik Fashion wanita yang dalam menjalani hidupnya kurang mensyukuri
nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Meskipun begitu nama yang tertera
bukan nama aslinya, itu hanya sekedar nama samara belaka.
“Yah,
gimana sih ini, kamu kerja yang bener dong!” salak sang atasan wanita itu sebut
saja namanya nenti
“Udah
saya bersihin ko itu?”Jawabku singkat sembari menunjukkan lantai yang sudah di
sapunya, sebut saja namanya adalah Siti
“Tuh
lihat, debunya masih di mana-mana. Kamu nyapunya bagaimana?” ketus nenti
“Ya
nyapu seperti biasa, emang nyapu yang gimana lagi” jawab siti yang menjadi
kesal atas sikap nenti tersebut.
Ia
pun akhirnya pergi ke gudang penyimpanan, menaruh sapu dan pengkinya tersebut. Kembali
dari gudang atasannya yang lain memanggilnya, sebut saja namanya kia.
“Siti,
ayo kesini” ucap kia sembari melambaikan tangannya menuju ke arah Siti.
“Iya
ka, ada apa?”Tanyanya heran sambil bergegas menghampiri Kia
“Nih
gunting (sambil menyodorkan gunting ke arah Siti) dari pada kamu bengong lebih
baik kamu lihat baju-baju displaynya ada yang lebih benang jahitnya atau tidak,
kalau ada kamu gunting pakai ini, ngerti kan?” jelasnya.
“Iya
ka mengerti” Sahut Siti sambil mengambil gunting dari tangan Kia tersebut.
Siti
yang mendapat tugas itu pun langsung menjalankan tuganya. Ia memeriksa seluruh
baju yang ada di tokonya satu per satu. Sehabis membuang jahitan lebih tersebut
Ia pun diajarkan berbagai macam hal yang harus dia ketahui di dalam toko
tersebut. Mulai dari bagaimana memasang hanger pakaian, melipat pakaian,
memasang pakaian di patung bahkan sampai kode produk harga dan segala ukuran
baju tersebut.
Suatu
hari, Ia melakukan sebuah kesalahan dalam menjalankan tugasnya, Ia terlupa akan
ketentuan bahwa setiap konsumen hanya boleh memasukkan tiga buah pakaian
kedalam ruang ganti. Tanpa sengaja ia memasukkan lebih dari ketentuan tersebut,
bahkan ia tidak tahu apa barang yang di berikan kepada konsumen tersebut
kembali ke tangannya atau tidak karena ia lupa berapa jumlah pakaian tersebut. Kemudian
Ia pun mendapat teguran dari atasannya.
Sampai
hati perkataan atasannya tersebut menggeluti hatinya, Siti lalu menangis
tersedu-sedu setelah shalat di dalam ruangan ganti konsumen. Suaranya yang
begitu amat keras terdegar oleh Kasir jaga saat itu, anggap saja Mita namanya.
Mita yang mendengar tangisan di ruang ganti pun lalu menghampirinya dan mendapati Siti ada di dalamnya. Setelah itu,
Mita yang penasaran dengan tangisan siti menanyakan apa yang terjadi. Siti pun
menjelaskan dengan rinci permasalahan yang tadi ia alami. Ia takut bahwa
konsumen tersebut mengambil pakaian yang di cobanya dan takut akan amarah
atasannya tersebut.
Mita
yang mendengarkan penjelasan Siti pun langsung menenagkannya dan menegur Kia
serta Nenti yang memarahi Siti terlalu kasar. Mereka berdua langsung
menghampirinya dan meminta maaf akan kesalahannya, Siti akhirnya juga
memaafkannya. Akan tetapi, di dalam hati Siti terdapat gejolak perasaan
Frustasi akan pekerjaan yang Ia jalani. Ia pulang dengan pikiran penuh
kekesalan dan kegundahan hati.
Keesokan
harinya, Siti mendapatkan pesan bahwa Ia di mutasi ke toko yang ada di sekitar Jakarta
yang tidak jauh dari rumahnya. Ia mendapatkan suasana baru, orang baru dan
peraturan baru yang didapatkannya dari atasannya tersebut.
Atasannya
di sini sebut saja mia dan sinta, mereka
atasan yang tidak begitu mengatur dan bahkan Siti yang sebelumnya sempat merasa
frustasi akhirnya merasa senang bekerja di tempat ini.
3
bulan berselang, datanglah karyawan baru di perusahaan itu, namanya bisa di
panggil kina.. Karyawan ini juga sama-sama mutasi dari toko tempat Siti
sebelumnya. Awalnya mereka Nampak akrab, semuanya berjalan sesuai keinginannya.
Tidak lama setelah itu, Datanglah karyawan baru lagi ke toko tersebut sebut
saja namanya rina, karena saat itu akan ada bazar besar-besaran di Mall yang ia
tempati. Siti dan kedua rekannya itu tampak akrab dan saling membantu.
Kemudia
sebulan berlalu, supervisor di perusahaan itu datang ke toko dan mengumumkan
bahwa kina akan mendapatkan promosi jabatan sebagai seorang Kasir. Siti yang
mendengar ucapan sang Supervisor tersebut merasa tersinggung. Dia bertanya-tanya
di dalam hatinya kenapa harus Kina yang mendapatkan promosi jabatan tersebut,
padahal Ia yang bekerja di sana lebih lama. Hatinya penuh dengan rasa iri dan
kebencian terhadap Kina. Semakin hari Ia melihat Kina belajar menjadi seorang
kasir , semakin bertumbuh rasa kebencian itu di dalam hatinya. Siti yang sudah
tidak tahan dengan keadaan yang membuatnya frustasi lalu mengatakan kepada Rina
bahwa Kina seharusnya tidak mendapatkan promosi itu,” toh.. saya yang lebih
dulu bekerja di sini”
Begitulah
awal mula api yang membara menggebu-gebu. Tak lama setelah Siti
menjelek-jelekkan Kina di hadapan Rina. Ternyata Rina adalah orang yang tidak
bisa dipercaya, padahal Ia telah berpesan agar tidak memberi tahu siapa pun.
Kina
yang mendengar ucapan Siti tentangnya tersebut langsung menghampiri Siti. Mereka
berdua beradu argumen yang sangat keras sampai tetangga sepertokoannya
mendengar ucapan mereka itu. Mia dan Sinta lalu mereraikan pertikaian mereka
berdua.
Beberapa
hari kemudian, mereka Nampak masih saling berdiam diri, enggan rasanya untuk
saling meminta maaf. Keadaan yang renggang masih terlihat di antara mereka
berdua. Di tambah Rina yang mengadu domba mereka tidak masuk selama beberapa
hari dengan alasan sedang datang bulan yang sangat sakit sehingga menyebabkan
Ia tidak bisa masuk bekerja.
Keadaan
pun semakin bergejolak di dalam hati Siti. Ia semakin tidak merasa nyaman
bekerja di tempat tersebut. Apalagi Rina yang membuat Siti sangat kecewa sudah
mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Setiap
hari Siti melayani konsumen dengan hati yang gelisah dan tatapan yang kosong.
Ia merasa frustasi akan pekerjaan yang dijalaninya. Ia tidak tahu lagi
bagaimana caranya untuk melanjutkan hidup jika seperti ini caranya. Ia pun
akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya yang sudah begitu baik
untuknya dan lebih memilih melanjutkan pendidikan yang belum tentu akan
memberikan ia sesuatu yang lebih dari yang dia punya.
Dari
gambaran cerita Siti di atas dapat kita simpulkan bahwa Siti ini memiliki sifat
yang keras kepala, egois dan iri hati. Hal in jauh dari kategori sebagai
seorang muslim yang pandai bersyukur. Sedikitpun tidak terdapat rasa nikmat
yang meliputi hatinya. Hanya pikiran negatif yang selalu membayangi
kehidupannya. Ia buta akan nikmat yang sudah ia jalani selama hidupnya. Untuk itu,
kita sebagai kaum yang mengakui kecintaan kita terhadap Allah SWT. beserta Nabi
Muhammd SAW. Agar senantiasa menumbuhkan semangat, pikiran positif dan jiwa
yang selalu mensyukuri nikmat yang didapatkan.
No comments:
Post a Comment