Setelah
Ia memalingkan muka akan nikmat Allah yang diberikan untuk kedua kalinya. Ia
menyombongkan diri bahwa akan mendapatkan pengganti yang lebih baik seakan-akan
hal itu sangat mudah baginya.
Pencarian
pun dimulai, setiap hari Ia mencari lowongan pekerjaan di semua media dan Menanyakan ke teman-teman terdekatnya. Ia
mengirimkan. Lamaran ke semua tempat yang di datangi.
Semakin
hari mencari, Ia pun mulai berfikir “ Kenapa susah sekali mendapatkan
pekerjaan”
“Padahal
aku sudah menaruh banyak sekali surat lamaran” gumamnya dalam hati.
Siti
terus menelusuri jalan dalam pencariannya. Tak terasa hari mulai beranjak sore,
Ia kemudian kembali kerumah.
Beberapa
bulan kemudia Ia mendapat pesan singkat dari suatu perusahaan yang
mengundangnya wawancara. Pada hari yang sudah di tentukan, Siti mendatangi
tempat tersebut. Wawancara pun berlangsung, Ia mendapati bahwa lamaran yang
diajukannya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Meskipun seharusnya Ia sudah
bekerja, tetapi tawaran yang baik itu tetap tidak diambilnya. Dengan rasa ego
yang kuat, Siti meninggalkan tempat wawancara itu.
Sebulan
kemudian dari hari itu, Ia menerima telepon masuk untuk datang menghadiri
wawancara lagi. Ia juga menghadirinya, semua pekerjaannya sudah sesuai dengan
yang diinginkannya. Tetapi karena penghasilan yang diinginkannya tidak sesuai,
Siti pun menolaknya untuk yang kedua kalinya.
Hari
terus berganti hari, Ia hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan sesuatu hal
yang berguna. Datanglah kembali kesempatan yang ketiga yang Allah berikan
untuknya. Ia mendengar kabar bahwa perusahaan itu sedang mencari karyawan. Siti
yang mendengar hal itu langsung mendatangi perusahaan.
Sesampainya
di sana, ternyata Ia harus melakukan training selama 3 hari untuk mendalami
pekerjaan yang akan dilakukannya. Ia pun mengikuti arahan tersebut karena sudah
tidak sanggup jika harus lebih lama berada di rumah.
Masa
training sudah terlewati, tiba saatnya melakukan wawancara. Ia ikuti semua alur
perusahaan itu, tapi sangat disayangkan. Setelah Ia diterima bekerja. Keesokan
harinya Ia tidak hadir bekerja dengan berdalih tidak akan mampu melewati target
yang diajukan perusahaan.
Akhirnya,
Siti kembali meratapi nasibnya di rumah.
“Gimana?
Udah kebayangkan bagaimana Allah murkanya dengan hamba-Nya yang tidak pandai
bersyukur? Oleh karena itu, janganlah sesekali kita memalingkan pandangan dari
nikmat yang begitu besar yang Allah berikan untuk kita.
No comments:
Post a Comment