Perjalanan
kehidupan yang dijalani Siti, semakin hari menjadi tak karuan, Pikirannya
semakin ruwet, hatinya semakin sesak dan pandangannya juga kosong. Matanya yang
memerah memberikan makna penyesalan akan kesalahannya di masa lalu, hatinya
kalut dan berprasangka Allah telah meninggalkannya sendiri. Ia menanyakannya
dalam hati “Ya Allah mengapa engkau seperti ini padaku, Aku tahu salah tapi
janganlah kau perlakukanku sepeti ini. Berikanlah jalanmu agar aku tidak
bersangka-sangka kepadamu, ya Allah.” Diulanginya kalimat itu berulang kali. Tanpa
sadar, Ia kehilangan arah hidupnya. Setiap hari pemalasan saja yang Ia lakukan.
Ia bahkan enggan melakukan hal-hal lainnya. Berbaring dalam tempat tidur saja
yang selalu Ia lakukan.
Kabar
burung yang selalu ia dapatkan, kini hal itu sudah tidak lagi dihiraukannya. Ia
sudah tidak ingin berfikir apa-apa lagi. Dalam benaknya hanya kata menyerah
yang terus terngiang.
“Jika
aku mati, tak akan mungkin aku harus mengalami ini. Sudah pasti kekacawan ini
tak akan lagi aku lalui” gumamnya dalam keheningan malam di kala waktu tidur
memanggil.
Sampai
kapan aku begini?
Sudah
cukup aku menanggungnya, mengapa tak ada jalan lagi untukku?
Aku
tak kuasa menahannya lagi…Tuhan kapan ini semua berakhir?
Air
matanya terus mengalir membasahi pipinya. Tangannya tak henti-henti mengusap
muka yang penuh dengan berlinang air mata itu. Setiap malam Ia tidak bisa
beristirahat. Matanya selalu terbangun dan tak mampu untuk menutup.
Kehilangan
jati diri adalah hal yang paling menyakitkan baginya. Merasa rendah tentu
selalu meliputi setiap langkahnya. Kekuatan dan kesombongan yang dia punya kini
sudah tak tertampakkan lagi. Ia hanya berdoa agar Tuhan memaafkannya, jika
tidak hal-hal yang mengerikan selalu membayangi pikirannya.
“Apakah
kalian semua ingin nasib seperti Siti? Menjalani kehidupan tanpa arah dan
pandangan? Jika tidak, apa yang akan kalian lakukan? Akankah kalian menutup
mata pada kehidupan yang penuh nikmat? Bersyukurlah dengan apa yang kalian
miliki saat ini, jangan sampai penyesalan menghantui kalian kelak, karena
penyesalan itu sangat menyakitkan. Duka cita karena penyesalan tak akan ada
obatnya sampai kebahagiaan lain datang menggantikannya.
Selamat
menikmati hidup kalian yang cerah ya!
No comments:
Post a Comment