Friday, 25 May 2018

Tak sebiru gelang itu


       Aku termenung dalam malam sunyi yang menghembuskan angin riuh. Seketika aku teringat akan dia yang masih ku rindu. Lalu aku membuka kotak yang sudah 5 tahun tak pernah aku sentuh sedikitpun. Ku ambil sebuah lukisan beserta gelang yang masih terbungkus rapih di dalam sebuah wadah.

Aku mulai membuka pembungkus itu dan ku pandangi lukisan wajah yang begitu mirip dengan ku. Lalu aku baca sebuah tulisan yang berada di belakang lukisan itu berulang kali. Saat membacanya tak ada sedikitpun rasa bosan menghampiriku.

Kemudian aku pakai gelang itu, gelang yang masih melambangkan perasaan dan hatiku. Masih terngiang dalam ingatanku saat dia berkata padaku sebuah kata yang begitu indah, kata yang menembus relung hatiku yaitu kata bahwa gelang ini sebiru dan seindah cintanya.

Kalimat itu membuatku terbang menembus awan. Seakan waktu berhenti bersamaan detak jantungku. Tiba-tiba aku mulai membayangkannya dalam pikiranku, saat pertama kali kami bertemu dan memadu kasih.
*****
Hari itu, aku sedang bekerja di sebuah Butik Busana Wanita di sebuah Mall ternama. Saat aku sedang menyapa para pelanggan yang masuk ke toko ku, datanglah sesosok pria bersama kedua orang tuanya masuk kedalam tokoku. Kebetulan saat itu, ibunya sedang mencari syal untuk di pakainya.

Kedua orang tuanya masuk kedalam dan memilih-milih syalnya. Tetapi pria ini kembali keluar dan tidak masuk kedalam, dia justru menghampiriku dan langsung menanyakan siapa namaku.
“Mba, maaf nih kalo boleh saya tahu, namanya siapa ya?” ucapnya dengan lantang
Tanpa pikir panjang aku langsung menyebutkan namaku. “Nama saya siti, Mas” Jawabku. “ Lalu mas sendiri namanya siapa ya?” (sambungku)
“oh nama saya kattar …“ jawabnya sambil menggaruk-garukkan kepalanya seakan tersipu malu.

Kami pun langsung berbincang-bincang lamanya , entah kenapa aku cocok saat berbicara dengannya. Aku merasa ada chemistry di antara kita berdua. Munkin ini hanya sekedar perasaanku saja. Aku tidak tahu kalau ia pun merasakan hal yang sama. Saat itu supervisor sedang berada di toko ku sehingga aku menyudahi percakapan dengannya karena takut terkena tegurannya.

Kedua orang tuannya pun selesai berbelanja di tempatku. Kemudian ia pun pergi mengikutinya. Tapi aku merasa malu saat dia melambaikan tangannya kepadaku dan berucap “Dah…sampai bertemu lagi!”
*****
2 hari berlalu, hari di mana toko ku mendapatkan pengunjung yang begitu banyak hingga aku merasa kewalahan. Saat itu aku melihat ke arah escalator dan ternyata dia sedang memperhatikanku. Aku begitu malu dan langsung berpura-pura menyibukkan diri sehingga dia bisa merasakan bahwa aku  tak memperhatikannya.

Setelah lama berselang , aku selesai melayani para pelanggan. Kemudian aku melihat ke arah tempat ia berdiri tapi dia sudah tidak ada di sana. Entah rasa apa yang menggelutiku ketika ia pergi. Rasa kehilangan pun menghantuiku sehingga aku terus memikirkannya dan tidak bisa fokus dalam pekerjaannku.
*****
Malam berselang, waktunya aku untuk pulang beristirahat. Aku pun berjalan menuju halte bus yang biasa mengantarkanku kembali ke rumah. Saat aku berjalan tiba-tiba sebuah mobil mendekatiku. Aku merasa takut sehingga aku berjalan lebih cepat. Akan tetapi, mobil itu membunyikan klakson dan seseorang yang mengendarainya, membuka kaca mobilnya. Lalu dia memanggil namaku: “hei… Siti”

Aku yang sedang berjalan setengah lari, lalu berhenti sejenak dan menoleh ke arahnya. Aku kaget bukan kepayang mendapati ternyata ia Kattar. Pria yang rasanya tengah aku sukai. Ia pun keluar dari mobilnya menghampiri ku. Entah perasaan apa yang melambai-lambai dalam hatiku, jantungku pun seakan berdegup dengan kencangnya.
“Hei… kamu pulang sendiri?” tanyanya
“Ia aku pulang sendiri, ini lagi mau jalan ke halte bus” jawabku terbata-bata
“Ayo…ikut denganku…” Bujuknya sambil mencoba menggenggam tanganku.
Aku pun menepis tangannya sembari berkata” Tidak..terima kasih, saya lebih suka naik bus”
Yakin tidak mau ikut?...baiklah bolehkah ku meminta nomormu?” sambungnya sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya.
“Iya aku sungguh yakin (menyakinkannya) oh boleh,, “
aku lalu menyebutkan nomor hp ku kepadanya dan dia menyimpan nomorku di dalam hpnya.
Kemudian dia mengantarku menuju halte bus. Tak lama setelah menunggu, bus yang kunantikan pun datang. Lalu aku menaikinya. Entah apa yang dia katakan saat aku di dalam bus karena aku tidak bisa mendegarnya dari dalam, yang pasti aku sangat senang hari itu.
*****
Setelah hari itu, kami selalu berkirim pesan singkat bahkan tak jarang melakukan panggilan video. Semakin hari kami semakin dekat. Mungkin kami sudah saling merasakan kasih sayang yang tumbuh di dalam hati. Saat aku  pulang kerja kudapati dia sudah menungguku di halte dengan kedua tangannya memegang sesuatu bungkusan. Lalu aku menghampirinya, dia kemudian menanyakan kabarku  dan seketika itu memberiku bungkusan itu. Dia berkata itu adalah hadiah untukku. Bungkusan yang pertama  itu sungguh besar dan yang kedua sangat mungil. Aku tidak membayangkan apa isinya. Sesampainya dirumah aku membukanya dan aku sangat terkejut bahagia dengan isi yang ada di dalamnya. Aku merasa bersyukur karena dia ada disampingku saat itu.
*****  
Sampai hari di mana aku mendapat kabar dari atasanku bahwa aku dipindahkan jauh dari rumahku. Aku dipindahkan ke toko yang mallnya lebih besar dan aku dipindahkan kesana untuk hari esoknya. Lalu aku tertegun dan berfikir mungkin akan sulit untuk bertemu dengannya karena jarak yang begitu sangat jauh. Lalu aku mengabarinya dan dia mengetahui hal itu tapi dia memberiku semangat dan berjanji padaku setiap akhir pekan ia akan berkunjung kesana. Aku pun lega mendengar kalimat yang ia sampaikan kepadaku.
*****
malam itu, bus yang kutunggu tidak datang-datang. Aku pun bingung bagaimana caranya untuk pulang.  Malam semakin larut, aku sudah mulai kebingungan entah mengapa aku tidak bisa untuk mengabarinya karena aku takut akan mengganggu waktunya beristirahat.

Saat aku masih berdiri mondar-mandri di halte bus. Sesorang menggunakan motor datang menyapa ku. Ia melepas kaca dihelm yang ia pakai. Aku langsung mengenalinya meskipun kami tidak begitu dekat. Ia langsung mengajakku pulang bersamanya, tanpa pikir panjang aku langsung meng-iyakannya karena aku tidak mau berdiam di halte sampai pagi. Aku pun pulang dengan selamat.
*****
Bebepara hari  kemudian aku mendapat telepon dari kattar. Saat itu aku sudah bekerja di tempat yang baru. Lalu ia menanyakan secara rinci mengenai aku pergi dengan arya, aku pun menjelaskan kepadanya tapi dia tetap marah karena arya adalah musuhnya yang sangat ia benci. Ternyata hari esok setelah aku diantarnya, mereka berdua bertengkar hebat. Ia pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada mereka dan entah bagaimana kami pun akhirnya memutuskan hubungan.. kami langsung lost contact sebenarnya kalau dipikirkan hal itu begitu sepele. Aku menerima tumpangan dari pria lain karena bus yang ku tunggu tak kunjung datang.
*****
3 bulan lamanya, ia pun menelepon ku kembali, ia memintaku untuk kembali seperti dulu. Tapi karena aku egois aku pun tidak menghiraukan permintaanya. Ia mengajak ku bertemu tapi aku tidak mau. Sampai akhirnya dia pun menyerah. Kami tak berhubungan sedikitpun. Tak ada chat atau telepon masuk lagi darinya. Sungguh itu adalah hal yang sangat aku sesali dalam hidupku. Aku pun membayangkannya penuh dengan luka dalam hati. Rasanya hatiku teriris saat mengingatnya.
*****
Ketika aku masih membayangkan kejadian masa lalu itu, tiba-tiba aku mendapatkan telepon dari kattar. Aku sungguh kaget, setelah sekian lamanya kami lost contact. Ia sekarang mengubungiku lagi. Aku akhirnya mengangkat teleponnya , kami pun saling menanyakan kabar dan berbincang-bincang banyak hal karena sudah lama tidak saling berbagi cerita. Sampai di penghujung teleponnya , ia menanyakan ku apakah aku berkenan bertemu denganya. Tetapi sekali lagi keegoisanku menghancurkanku. Aku menolak pertemuan itu dengannya. Kattar pun akhirnya menutup teleponnya.dan aku sedih dalam kesendirian.
*****
2 minggu sejak ia menelepon. Aku pun penasaran dengan apa yang terjadi padanya. Akhirnya aku pergi ke warung internet untuk melihat profilnya di facebook karena saat kami saling mengenal, kami selalu berbagi cerita di Facebook bersama.

Setelah aku sampai di sana, aku langsung membuka akun profilnya. Aku terdiam sangat lama, aku sungguh kaget dan sedih karena kudapati dia mempost kan foto pernikahannya dengan wanita lain. Saat itu aku sudah tidak bisa berfikir lagi. meski begitu, aku masih bisa untuk mengirimkan komentar di bawah fotonya dengan kalimat “semoga kalian hidup dalam kebahagiaan dan saling mencintai sampai akhir hayat yang memisahkan kalian”. Setelah mengirim kalimat itu, aku langsung melog out akun dan pulang dengan kehampaan hati. Ketika berjalan rasanya ada yang hilang di dalam diriku. Berjalan dengan pandangan kosong dengan menahan air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi.

Sesampainya dirumah,,  aku  masuk kedalam kamar dan mengunci pintu dan menangis tersendu-sendu. Ku sesali yang ku perbuat dan menyesali semua hal yang telah terjadi, karena apa yang ia ucapkan tak sebiru gelang yang bersinar ini…

No comments:

Post a Comment

Yuk, mulai bersyukur!!

Setiap manusia adalah cobaan bagi manusia lainnya. Kita diberikan kehidupan agar  mampu melihat nikmat dari segala sisi. kehidupan layak...