Thursday, 24 May 2018

LHO SOMBONG! AKU ATAU KAMU?

  Sombong itu ibaratnya ujung tombak seseorang. Ketika kita memiliki sifat sombong tersebut, Ia akan Menganggap kehidupan itu adalah miliknya sendiri. Ia memandang dirinya paling benar dari segala aspek dan memandang orang lain rendah. Ekspektasi tersebut akan membawa kita masuk ke dalam jurang dosa yang sangat dibenci oleh Allah, kita harus menyadari bahwa di luar sana ada manusia  yang lebih dari pada kita dari segala hal.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 23 sebagaimana berikut:
“Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.”  

Kesombongan itu tidak hanya dalam satu aspek. Sombong sendiri terbagi ke dalam dua bagian. Pertama sombong yang bertentangan dengan iman, dan kedua sombong yang tidak bertentangan dengan iman secara keseluruhan.

Sombong yang bertentangan dengan iman akan menjauhkan diri kita dari surga-Nya.

Sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an surah Ghafir ayat 60 berikut:
“Dan Tuhan-Mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Pernahkan kalian mendengar kisah Iblis yang menyombongkan diri?
Dosa pertama Iblis yang muncul adalah sombong kepada Allah diakibatkan tidak sudi untuk sujud kepada Adam.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan (ingatlah) ketika kami Berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah : 34)

Iblis Iri hati kepada Adam as. Dengan kemuliaan yang didapatkannya dari Allah. Ia bersikukuh bahwasanya Iblis lebih baik dari Adam karena Ia diciptakan dari Api sedangkan Adam hanya dari tanah.

Dan masih ingatkah kalian tentang kisah Fir’aun?

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surah An-Naml ayat 14 sebagai berikut:
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Lalu kisah orang-orang yahudi terdahulu? Pernahkan mendengarnya?
Mereka menolak setiap Nabi yang menyerukan kebenaran dan petunjuk karena tidak sesuai dengan keinginannya.

Allah berfirman sebagaimana berikut ini:
“Dan sungguh, kami telah memberikan kitab (Taurat) kepada Musa, dan kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul. Dan kami telah berikan kepada ‘Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran serta kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus (Jibril). Apakah setiap Rasul yang datang (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh ? “ (Q.S Al-Baqarah : 87)

Kemudian kesombongan yang tidak bertentangan dengan iman merupakan sebuah dosa besar, Karena Ia sombong akan dirinya dan meremehkan orang lain. Contohnya bisa berupa menghina orang lain, saat melakukan bantuan lalu merasa lebih berjasa dibandingkan orang lain dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Allah menjelaskan permasalahan diatas di dalam Al-Qur’an Surah Ghafir ayat 56 berikut:
“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, dia maha mendengar, maha melihat.”

Sombong terhadap makhluk atau seseorang bisa berupa kesombongan akan jabatan dan kedudukan yang sedang Ia jalankan, bisa berupa kesombongan akan harta yang dimilikinya, kekuatan dan kesehatan, bisa juga berupa kesombongan akan ilmu yang ia peroleh, kecerdasan yang ia miliki dibanding orang lain, kesombongan juga bisa berasal dari kesempurnaan bentuk tubuh yang Allah berikan kepadanya.

Kesombongan yang paling buruk adalah menyombongkan diri dengan ilmu yang dimilikinya. Apabila ia terus lalai akan kesombongannya, maka bisa menyimpang dari jalan yang lurus dan menyebabkannya menjadi binasa.

Diriwayatkan dalam hadist sebagaimana berikut ini :
“Abu Hurairah r.a berkata : Rasulullah SAW. Bersabda: jika seorang berkata karena
sombong. Celakalah manusia. Maka ia akan menjadi paling binasa.” (H.R. Muslim)

Jika kata yang keluar dari mulut kita untuk menunjukkan betapa hebatnya diri kita, maka itu termasuk menyombongkan diri. Akan tetapi, jika kalimat yang kita ucapkan itu untuk menyadarkan orang lain agar menjadi pribadi yang lebih baik dalam agama dan moralnya, hal itu tidak bermasalah jika kita ucapkan.

“Abu Musa Al-Asj’ary r.a berkata: Nabi SAW. Mendengar seorang memuji orang setinggi-tinggi pujian, maka Nabi bersabda : kamu telah membinasakan, atau mematahkan punggung orang itu. “ (H.R. Buchary,Muslim)

Kita seharusnya memiliki akhlak yang mulia karena pokok kebenaran kembali kepada-Nya dan pondasi kebenaran yang sudah kita bangun di atasnya juga akan kembali dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW.

Diriwayatkan dalam hadist sebagai berikut:
“Abu Bakrah r.a berkata: seorang dipuji di depan Rasulullah SAW. Maka Nabi bersabda: kau telah memotong leher kawanmu, diulanginya peringatan itu beberapa kali. Kalau salah satu kamu akan memuji hendaknya berkata : Saya kira begini, begitu, Allah sendiri yang akan menentukan itu dan jangan ada seorang mendahului Allah memuji orang.” (H.R. Bukhari,Muslim)

“Hamman bin Alharits berkata: ketika Almiqdad melihat seorang memuji ‘Utsman, maka segera Almiqdad jongkok dan menyiratkan tanah kerikil ke mukanya. Maka ‘Utsman bertanya: mengapa kah kau itu? Jawab Miqdad: Saya telah mendengar Rasulullah SAW. Bersabda: jika kamu melihat orang yang memuji-muji maka siratkan tanah di muka mereka.” (H.R. Muslim)

Dari hadist-hadist diatas dijelaskan bahwa kita dilarang untuk memuji. diperbolehkan untuk memuji jika orang yang kita puji tersebut sempurna imannya dan tidak akan terpengaruh dan goyah oleh pujian itu, agar kita senantisa selalu di jalan Allah, supaya kita tidak menyimpang ke jalan yang salah dan dimurka-Nya.

Sikap seorang muslim seharusnya menerima dengan sepenuh hati akan kebenaran dan mengikuti segala perintah Allah serta menjauhkan segala larangannya.

Hal ini telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 36 sebagai berikut:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”


Sikap sombong yang kita miliki itu akan lebih baik jika kita ganti dengan sikap rendah hati (tawadhu’). Dengan begitu kita senantiasa tunduk akan segala kebenaran dan perintah Allah beserta Rasul-Nya.

Diriwayatkan sebagai berikut:
“Ijadl bin Himar r.a berkata: Rasulullah SAW. Bersabda : Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepada saya supaya kamu bertawadlu’, hingga tidak seorang menganiaya pada orang lain, dan tidak seorang menyombongkan orang lain” (H.R Muslim)

Sebagaimana firman Allah berikut:
“Adapun hamba-hamba Tuhan yang maha pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan dibumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucap “salam,” (Q.S. Furqan : 63)

Kembali lagi kedalam masalah sombong, jika kita sudah dianggap menjadi orang sombong oleh orang lain, maka sampai kapan pun entah itu teman dekat atau orang di sekitar kita pasti akan selalu menganggap kita  berkelakuan seperti itu meskipun kita sudah berintrospeksi diri.

 jika kita melakukan suatu hal yang menurut kita tidak berdampak apapun yang merugikan orang lain, tapi mereka justru menganggap hal lain yang terjadi.

Pernah tidak kamu bermaksud baik , ehh… malah  dianggap sombong?
Terkadang saat kita terlalu pede, menonjolkan kemampuan kita, meskipun maksud kita hanya untuk mengasah kemampuan kita, tapi nyatanya malah dianggap remeh orang lain bahkan di cap sombong. Pernah ngerasain kan? Apalagi saat zaman-zaman sekolah, tentunya sering dong kamu ngalamin gitu?

Mari kita lihat ilustrasi berikut:
A: eh ….udah ngerjain pr belum?
B: udah dong!
A: liat dong!
B:janganlah….kerjain sendiri!
A:pelit dasar, mentang-mentang bisa ngerjain jadi sombong!

Nah…kebayangkan seperti apa kejadiannya?

Dari contoh kejadian diatas , kita bisa mengambil kesimpulan bahwa si A itu orang yang pemalas dan B orang yang rajin mengerjakan tugas. Akan tetapi, si B tidak ingin memberikan contekkan karena untuk membuat si A tahu akan tugasnya sebagai seorang pelajar dan mau berusaha untuk mengemban tugasnya. Tapi pada kenyataannya, si B di cap sombong dan pelit dikarenakan dia tidak ingin memberikan contekkan tersebut. Si A justru menghardik si B tersebut.

Kata sombong sebenarnya tidak dapat kita maknai secara langsung, karena keadaan yang membuat orang sombong adalah terletak pada hatinya. Meskipun kita mengira dia sangat baik, belum tentu di dalam hatinya berkata demikian. Orang lain tidak akan bisa mencap seseorang sombong jika tidak dapat merasakan apa yang ada di dalam hati orang yang di anggap sombong tersebut karena sejatinya hanya Allah lah yang dapat melihat segala isi hati umat-Nya.

Jadi sudah tau dong siapa yang sombong? Coba lihat ke dalam hati kalian masing-masing !

No comments:

Post a Comment

Yuk, mulai bersyukur!!

Setiap manusia adalah cobaan bagi manusia lainnya. Kita diberikan kehidupan agar  mampu melihat nikmat dari segala sisi. kehidupan layak...