Sombong
itu ibaratnya ujung tombak seseorang. Ketika kita memiliki sifat sombong
tersebut, Ia akan Menganggap kehidupan itu adalah miliknya sendiri. Ia
memandang dirinya paling benar dari segala aspek dan memandang orang lain
rendah. Ekspektasi tersebut akan membawa kita masuk ke dalam jurang dosa yang sangat
dibenci oleh Allah, kita harus menyadari bahwa di luar sana ada manusia yang lebih dari pada kita dari segala hal.
Allah
berfirman di dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 23 sebagaimana berikut:
“Tidak
diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang
mereka lahirkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.”
Kesombongan
itu tidak hanya dalam satu aspek. Sombong sendiri terbagi ke dalam dua bagian. Pertama
sombong yang bertentangan dengan iman, dan kedua sombong yang tidak bertentangan
dengan iman secara keseluruhan.
Sombong yang bertentangan dengan iman akan menjauhkan diri kita dari surga-Nya.
Sebagaimana
firman Allah di dalam Al-Qur’an surah Ghafir ayat 60 berikut:
“Dan
Tuhan-Mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya
orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam
keadaan hina dina.”
Pernahkan
kalian mendengar kisah Iblis yang menyombongkan diri?
Dosa
pertama Iblis yang muncul adalah sombong kepada Allah diakibatkan tidak sudi
untuk sujud kepada Adam.
Allah
berfirman di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan
(ingatlah) ketika kami Berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada
Adam!” maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri,
dan ia termasuk golongan yang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah : 34)
Iblis
Iri hati kepada Adam as. Dengan kemuliaan yang didapatkannya dari Allah. Ia
bersikukuh bahwasanya Iblis lebih baik dari Adam karena Ia diciptakan dari Api
sedangkan Adam hanya dari tanah.
Dan
masih ingatkah kalian tentang kisah Fir’aun?
Allah
berfirman di dalam Al-Qur’an surah An-Naml ayat 14 sebagai berikut:
“Dan
mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka
meyakini (kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang
yang berbuat kerusakan.”
Lalu
kisah orang-orang yahudi terdahulu? Pernahkan mendengarnya?
Mereka
menolak setiap Nabi yang menyerukan kebenaran dan petunjuk karena tidak sesuai
dengan keinginannya.
Allah
berfirman sebagaimana berikut ini:
“Dan
sungguh, kami telah memberikan kitab (Taurat) kepada Musa, dan kami susulkan
setelahnya dengan rasul-rasul. Dan kami telah berikan kepada ‘Isa putra Maryam bukti-bukti
kebenaran serta kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus (Jibril). Apakah setiap Rasul yang datang (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu
inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian
kamu bunuh ? “ (Q.S Al-Baqarah : 87)
Kemudian
kesombongan yang tidak bertentangan dengan iman merupakan sebuah dosa besar, Karena
Ia sombong akan dirinya dan meremehkan orang lain. Contohnya bisa berupa
menghina orang lain, saat melakukan bantuan lalu merasa lebih berjasa
dibandingkan orang lain dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Allah
menjelaskan permasalahan diatas di dalam Al-Qur’an Surah Ghafir ayat 56
berikut:
“Sesungguhnya
orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang
sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan)
kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah.
Sungguh, dia maha mendengar, maha melihat.”
Sombong
terhadap makhluk atau seseorang bisa berupa kesombongan akan jabatan dan
kedudukan yang sedang Ia jalankan, bisa berupa kesombongan akan harta yang
dimilikinya, kekuatan dan kesehatan, bisa juga berupa kesombongan akan ilmu
yang ia peroleh, kecerdasan yang ia miliki dibanding orang lain, kesombongan
juga bisa berasal dari kesempurnaan bentuk tubuh yang Allah berikan kepadanya.
Kesombongan
yang paling buruk adalah menyombongkan diri dengan ilmu yang dimilikinya. Apabila
ia terus lalai akan kesombongannya, maka bisa menyimpang dari jalan yang lurus
dan menyebabkannya menjadi binasa.
Diriwayatkan
dalam hadist sebagaimana berikut ini :
“Abu Hurairah
r.a berkata : Rasulullah SAW. Bersabda: jika seorang berkata karena
sombong. Celakalah
manusia. Maka ia akan menjadi paling binasa.” (H.R. Muslim)
Jika kata yang keluar dari mulut kita untuk menunjukkan betapa hebatnya diri kita, maka itu termasuk menyombongkan diri. Akan tetapi, jika kalimat yang kita ucapkan itu untuk menyadarkan orang lain agar menjadi pribadi yang lebih baik dalam agama dan moralnya, hal itu tidak bermasalah jika kita ucapkan.
“Abu Musa Al-Asj’ary
r.a berkata: Nabi SAW. Mendengar seorang memuji orang setinggi-tinggi pujian,
maka Nabi bersabda : kamu telah membinasakan, atau mematahkan punggung orang
itu. “ (H.R. Buchary,Muslim)
Kita
seharusnya memiliki akhlak yang mulia karena pokok kebenaran kembali kepada-Nya
dan pondasi kebenaran yang sudah kita bangun di atasnya juga akan kembali dengan
petunjuk Nabi Muhammad SAW.
Diriwayatkan
dalam hadist sebagai berikut:
“Abu Bakrah r.a
berkata: seorang dipuji di depan Rasulullah SAW. Maka Nabi bersabda: kau telah
memotong leher kawanmu, diulanginya peringatan itu beberapa kali. Kalau salah
satu kamu akan memuji hendaknya berkata : Saya kira begini, begitu, Allah
sendiri yang akan menentukan itu dan jangan ada seorang mendahului Allah memuji
orang.” (H.R. Bukhari,Muslim)
“Hamman bin
Alharits berkata: ketika Almiqdad melihat seorang memuji ‘Utsman, maka segera
Almiqdad jongkok dan menyiratkan tanah kerikil ke mukanya. Maka ‘Utsman
bertanya: mengapa kah kau itu? Jawab Miqdad: Saya telah mendengar Rasulullah
SAW. Bersabda: jika kamu melihat orang yang memuji-muji maka siratkan tanah di
muka mereka.” (H.R. Muslim)
Dari hadist-hadist
diatas dijelaskan bahwa kita dilarang untuk memuji. diperbolehkan untuk memuji
jika orang yang kita puji tersebut sempurna imannya dan tidak akan terpengaruh
dan goyah oleh pujian itu, agar kita senantisa selalu di jalan Allah, supaya
kita tidak menyimpang ke jalan yang salah dan dimurka-Nya.
Sikap
seorang muslim seharusnya menerima dengan sepenuh hati akan kebenaran dan
mengikuti segala perintah Allah serta menjauhkan segala larangannya.
Hal
ini telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 36 sebagai berikut:
“Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang
lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai
Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang
nyata.”
Sikap
sombong yang kita miliki itu akan lebih baik jika kita ganti dengan sikap rendah
hati (tawadhu’). Dengan begitu kita senantiasa tunduk akan segala kebenaran dan
perintah Allah beserta Rasul-Nya.
Diriwayatkan sebagai
berikut:
“Ijadl bin Himar
r.a berkata: Rasulullah SAW. Bersabda : Sesungguhnya Allah telah mewahyukan
kepada saya supaya kamu bertawadlu’, hingga tidak seorang menganiaya pada orang
lain, dan tidak seorang menyombongkan orang lain” (H.R Muslim)
Sebagaimana
firman Allah berikut:
“Adapun
hamba-hamba Tuhan yang maha pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan
dibumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan
kata-kata yang menghina), mereka mengucap “salam,” (Q.S. Furqan : 63)
Kembali lagi
kedalam masalah sombong, jika kita sudah dianggap menjadi orang sombong oleh
orang lain, maka sampai kapan pun entah itu teman dekat atau orang di sekitar
kita pasti akan selalu menganggap kita berkelakuan seperti itu meskipun kita sudah
berintrospeksi diri.
jika kita melakukan suatu hal yang menurut
kita tidak berdampak apapun yang merugikan orang lain, tapi mereka justru
menganggap hal lain yang terjadi.
Pernah
tidak kamu bermaksud baik , ehh… malah dianggap sombong?
Terkadang
saat kita terlalu pede, menonjolkan kemampuan kita, meskipun maksud kita hanya
untuk mengasah kemampuan kita, tapi nyatanya malah dianggap remeh orang lain
bahkan di cap sombong. Pernah ngerasain kan? Apalagi saat zaman-zaman sekolah,
tentunya sering dong kamu ngalamin gitu?
Mari
kita lihat ilustrasi berikut:
A:
eh ….udah ngerjain pr belum?
B:
udah dong!
A:
liat dong!
B:janganlah….kerjain
sendiri!
A:pelit
dasar, mentang-mentang bisa ngerjain jadi sombong!
Nah…kebayangkan
seperti apa kejadiannya?
Dari
contoh kejadian diatas , kita bisa mengambil kesimpulan bahwa si A itu orang
yang pemalas dan B orang yang rajin mengerjakan tugas. Akan tetapi, si B tidak
ingin memberikan contekkan karena untuk membuat si A tahu akan tugasnya sebagai
seorang pelajar dan mau berusaha untuk mengemban tugasnya. Tapi pada
kenyataannya, si B di cap sombong dan pelit dikarenakan dia tidak ingin
memberikan contekkan tersebut. Si A justru menghardik si B tersebut.
Kata
sombong sebenarnya tidak dapat kita maknai secara langsung, karena keadaan yang
membuat orang sombong adalah terletak pada hatinya. Meskipun kita mengira dia
sangat baik, belum tentu di dalam hatinya berkata demikian. Orang lain tidak
akan bisa mencap seseorang sombong jika tidak dapat merasakan apa yang ada di
dalam hati orang yang di anggap sombong tersebut karena sejatinya hanya Allah
lah yang dapat melihat segala isi hati umat-Nya.
Jadi
sudah tau dong siapa yang sombong? Coba lihat ke dalam hati kalian
masing-masing !
No comments:
Post a Comment