Sunday, 27 May 2018

Bagaimana ya amalKu?


Terkadang kita masih sering berfikir akan keadaan yang terjadi, padahal kita merasa sudah melakukan segala hal untuk mendapatkan ridha-Nya. Berbagai keluhan pun kita lontarkan.  
Kok begini ya?
Kok masih begitu aja ya?
Apalagi yang salah?
Perasaan, memohon ampunan udah?
Menerima ujian dan rintangan juga udah?
Tapi, masih gini-gini aja ya?

Nah…pernah tidak kalian terlintas dengan ucapan seperti itu? Jika pernah berarti kalian belum tuh yang namanya muhasabah.
Lho…Muhasabah?
Apaan tuh muhasabah?

Muhasabah itu adalah melakukan hisab diri akan segala sesuatu yang pernah dilakukan di masa lalu.

Maksudnya hisab diri yang seperti apa?

Muhasabah itu mencakup segala hal, pertama bisa bercermin kepada diri sendiri. Contohnya seperti melihat dan mengoreksi diri terhadap aib dan semua kekurangan yang kita punya.

Kemudian yang kedua dalam segi ibadah, contohnya bisa seperti memperbaiki ibadah yang kita lakukan, shalat yang khusyuk dan mengetahui hakikat ibadah itu sendiri agar mendapatkan ampunan atas segala dosa-dosa yang begitu banyaknya.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’un ayat 4-6 sebagaimana berikut:
“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat ria.”

Orang yang celaka adalah orang yang tidak menghargai serta melalaikan pelaksanaan dan waktu-waktu shalat. Dan ria dalam melakukan perbuatannya, semata-mata tidak untuk mencari keridhaan Allah, melainkan untuk mencari pujian atau kemansyuran di masyarakat.

Lalu yang ketiga kita bisa mempertimbangkan segala hal yang dilakukan baik itu hal kecil atau hal yang besar sekalipun, karena kesemua itu nanti di akhirat akan dipertanggungjawabkan.

Sebagaimana firmn Allah di dalam Al-Qur’an berikut ini:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabanya.” (Q.S. Al-Isra:36)

Setelah itu, ini adalah hal yang paling berat untuk dilakukan karena tidak semuanya bisa istiqamah. Hal tersebut adalah menahan hawa nafsu.

Kenapa hawa nafsu itu tergolong berat?

Hawa nafsu itu bisa tergolong berat karena bagi mereka yang tidak bisa istiqamah maka akan selalu terlanggar. Menahan di sini sendiri yaitu menjauhi segala hal yang berhubungan dengan kemaksiatan yang nantinya memudahkan dan meringankan kita saat hisab di akhirat kelak. Tidak jarang dari kita mungkin bisa mampu selamat dari hawa nafsu dan terbebas dari kekeliruan. Terkadang kita enggan menerima kebenaran yang berbeda dengan apa yang kita yakini sehingga kita sering bersikukuh menyakini sesuatu hal tanpa mau menerima koreksi.

Manfaat dari introspeksi diri itu sendiri adalah memudahkan kita dalam segala aspek. Seperti musibah yang kita alami bisa terangkat dan hisab menjadi ringan diakhirat kelak. Hati menjadi lapang dan terbebas dari sifat munafik.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an sebagaimana berikut ini:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr:18)

Dengan kita melakukan Muhasabah, ketakwaan kita pun akan semakin kukuh, iman semakin kuat, menjalankan shalat semakin khusyuk dan menjadikan kita manusia yang pandai dalam bersyukur. Akhlak yang kita miliki pun akan semakin terpuji, menjadikan diri kita tawadu’ wara’ dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah berikut :
“Dan tehadap nikmat Tuhan-Mu, dan hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)” (Q.S. Adl-Dluha:11)

Sarana untuk mengevaluasi diri kita sendiri juga beragam adanya. Kita bisa mulai dari menerima saran orang lain, berteman dengan rekan yang mampu membawa kita kepada jalan yang lebih baik dan mengingatkan kita jika kita melakukan kekeliruan. selain dari itu semua, kita juga bisa menyendiri untuk mengoreksi amal yang sudah kita lakukan.

Jika kita tidak mampu melakukan muhasabah dan hanya memikirkan kesibukan dunia maka iman pun akan semakin rapuh, ketakwaan akan semakin terkikis, amal shaleh berkurang, kepekaan spiritual menghilang dan pengorbanan untuk Allah dan Rasul juga semakin menipis.

Dunia itu ibaratkan dengan matahari, semakin kita mengejar arah bergeraknya maka matahari pun akan bergerak jauh dari kita sedangkan kehidupan akhirat justru bergerak maju mendekati kita. Sesungguhnya Kita hanya makhluk lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa. sekedar Manusia yang pendiriannya suka berubah-ubah setiap waktu.

Sebagaimana firman Allah berikut:
“Kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya, kepada kami-lah kembali mereka. kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” (Q.S. Al-Ghasyiyah:23-26)

Oleh karena itu, taubat yang sebenarnya harus dilakukan dengan penuh rasa penyesalan, bersyukur dan melakukan perbaikan yang mampu menebus kesalahan yang kita perbuat. Jadikanlah umur panjang yang Allah berikan sebagai sarana untuk mencari keridhaan-Nya. 

Seperti firman Allah berikut ini:
“Dan barangsiapa bertaubat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Q.S. Al-Furqan:71)

Mari kita bermuhasabah!

No comments:

Post a Comment

Yuk, mulai bersyukur!!

Setiap manusia adalah cobaan bagi manusia lainnya. Kita diberikan kehidupan agar  mampu melihat nikmat dari segala sisi. kehidupan layak...