Terkadang
kita masih sering berfikir akan keadaan yang terjadi, padahal kita merasa sudah
melakukan segala hal untuk mendapatkan ridha-Nya. Berbagai keluhan pun kita
lontarkan.
Kok
begini ya?
Kok
masih begitu aja ya?
Apalagi
yang salah?
Perasaan,
memohon ampunan udah?
Menerima
ujian dan rintangan juga udah?
Tapi,
masih gini-gini aja ya?
Nah…pernah
tidak kalian terlintas dengan ucapan seperti itu? Jika pernah berarti kalian
belum tuh yang namanya muhasabah.
Lho…Muhasabah?
Apaan
tuh muhasabah?
Muhasabah
itu adalah melakukan hisab diri akan segala sesuatu yang pernah dilakukan
di masa lalu.
Maksudnya
hisab diri yang seperti apa?
Muhasabah
itu mencakup segala hal, pertama bisa bercermin kepada diri sendiri. Contohnya seperti
melihat dan mengoreksi diri terhadap aib dan semua kekurangan yang kita punya.
Kemudian
yang kedua dalam segi ibadah, contohnya bisa seperti memperbaiki ibadah yang kita
lakukan, shalat yang khusyuk dan mengetahui hakikat ibadah itu sendiri agar
mendapatkan ampunan atas segala dosa-dosa yang begitu banyaknya.
Allah
berfirman di dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’un ayat 4-6 sebagaimana berikut:
“Maka
celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya,
yang berbuat ria.”
Orang
yang celaka adalah orang yang tidak menghargai serta melalaikan pelaksanaan dan
waktu-waktu shalat. Dan ria dalam melakukan perbuatannya, semata-mata tidak
untuk mencari keridhaan Allah, melainkan untuk mencari pujian atau kemansyuran
di masyarakat.
Lalu
yang ketiga kita bisa mempertimbangkan segala hal yang dilakukan baik itu hal
kecil atau hal yang besar sekalipun, karena kesemua itu nanti di akhirat akan
dipertanggungjawabkan.
Sebagaimana
firmn Allah di dalam Al-Qur’an berikut ini:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang
tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu
akan diminta pertanggungjawabanya.” (Q.S. Al-Isra:36)
Setelah
itu, ini adalah hal yang paling berat untuk dilakukan karena tidak semuanya
bisa istiqamah. Hal tersebut adalah menahan hawa nafsu.
Kenapa
hawa nafsu itu tergolong berat?
Hawa
nafsu itu bisa tergolong berat karena bagi mereka yang tidak bisa istiqamah
maka akan selalu terlanggar. Menahan di sini sendiri yaitu menjauhi segala hal
yang berhubungan dengan kemaksiatan yang nantinya memudahkan dan meringankan
kita saat hisab di akhirat kelak. Tidak jarang dari kita mungkin bisa mampu
selamat dari hawa nafsu dan terbebas dari kekeliruan. Terkadang kita enggan menerima
kebenaran yang berbeda dengan apa yang kita yakini sehingga kita sering bersikukuh
menyakini sesuatu hal tanpa mau menerima koreksi.
Manfaat
dari introspeksi diri itu sendiri adalah memudahkan kita dalam segala aspek. Seperti
musibah yang kita alami bisa terangkat dan hisab menjadi ringan diakhirat
kelak. Hati menjadi lapang dan terbebas dari sifat munafik.
Allah
berfirman di dalam Al-Qur’an sebagaimana berikut ini:
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan
bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr:18)
Dengan
kita melakukan Muhasabah, ketakwaan kita pun akan semakin kukuh, iman semakin
kuat, menjalankan shalat semakin khusyuk dan menjadikan kita manusia yang
pandai dalam bersyukur. Akhlak yang kita miliki pun akan semakin terpuji,
menjadikan diri kita tawadu’ wara’ dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebagaimana
firman Allah berikut :
“Dan
tehadap nikmat Tuhan-Mu, dan hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)” (Q.S.
Adl-Dluha:11)
Sarana
untuk mengevaluasi diri kita sendiri juga beragam adanya. Kita bisa mulai dari
menerima saran orang lain, berteman dengan rekan yang mampu membawa kita kepada
jalan yang lebih baik dan mengingatkan kita jika kita melakukan kekeliruan. selain
dari itu semua, kita juga bisa menyendiri untuk mengoreksi amal yang sudah kita
lakukan.
Jika
kita tidak mampu melakukan muhasabah dan hanya memikirkan kesibukan dunia maka
iman pun akan semakin rapuh, ketakwaan akan semakin terkikis, amal shaleh
berkurang, kepekaan spiritual menghilang dan pengorbanan untuk Allah dan Rasul
juga semakin menipis.
Dunia
itu ibaratkan dengan matahari, semakin kita mengejar arah bergeraknya maka
matahari pun akan bergerak jauh dari kita sedangkan kehidupan akhirat justru
bergerak maju mendekati kita. Sesungguhnya Kita hanya makhluk lemah yang tidak
bisa berbuat apa-apa. sekedar Manusia yang pendiriannya suka berubah-ubah
setiap waktu.
Sebagaimana
firman Allah berikut:
“Kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan
azab yang besar. Sesungguhnya, kepada kami-lah kembali mereka. kemudian sesungguhnya
(kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” (Q.S. Al-Ghasyiyah:23-26)
Oleh
karena itu, taubat yang sebenarnya harus dilakukan dengan penuh rasa
penyesalan, bersyukur dan melakukan perbaikan yang mampu menebus kesalahan yang
kita perbuat. Jadikanlah umur panjang yang Allah berikan sebagai sarana untuk
mencari keridhaan-Nya.
Seperti
firman Allah berikut ini:
“Dan
barangsiapa bertaubat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia
bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Q.S.
Al-Furqan:71)
Mari
kita bermuhasabah!
No comments:
Post a Comment