Tak habis-habisnya
kata syukur selalu berkaitan dengan kehidupan kita. Kehidupan yang terus
menggeluti setiap kali kita bernafas dan menikmati waktu yang tersisa di dunia
ini. Mana kala habis waktu kita di dunia, selesai lah sudah perjalanan yang
kita lalui selama ini. Rasa resah, gundah, takut, lemah dan yang menyerupainya
, pasti akan sirna berlalu pergi bersama jasad kita di bumi ini.
Kalau kita berfikir
akan nikmat yang diberikan, apa pernah merasa hidup penuh ketenangan? Pernahkah
merasakan kedamaian?
Tak sedikit dari kita
mungkin jarang merasakan ketenangan, apalagi saat kita menghadapi perubahan
hidup yang kian meningkat, perubahan zaman dan kekesalan akan tingkah laku
orang lain kepada kita.
Ketika orang lain
menyakiti kita, atau saat kita tidak menerima keadaan yang mengharuskan kita
menerima perubahan. Sudah tentu di dalam hati ini bergelimang rasa resah yang sulit
terobati. Kekacauan pun akan meningkat kedalam pikiran kita. Semua pandangan
didepan mata jadi terhalang.
Jika kita memaknai
arti berlapang dada sesungguhnya. Maka segala rasa resah yang tumbuh dalam hati
kita akan hilang. Kekacauan, kekeliruan, itu semua tidak akan menghampiri kita
jika kita sudah memiliki hati yang berlapang dada. Apapun yang terjadi tidak akan
membuat hatinya sempit dan menyesal.
Masih ingatkah kalian
tentang kisah Nabi Isa as?
Tentu sedikitnya
kalian pernah mendengarnya bukan?
Nabi Isa as
dilahirkan oleh Maryam tanpa seorang Bapak. Ia adalah seorang Rasul (utusan Allah) yang
termasuk kedalam Ulul-‘Azmi. Beliau merupakan tanda bukti kebesaran dan
kekuasaan Allah SWT.
Diriwayatkan dalam
Hadist Qudsi :
“Waha ‘Isa! Pasti aku
bangkitkan setelah kamu satu umat. Apabila mereka peroleh yang mereka sukai,
mereka memuji Allah dan bersyukur. Apabila mereka peroleh yang mereka tidak
senangi, mereka tetap tekun dan sabar. Padahal mereka tidak berlapang dada
ataupun berilmu. Isa berkata: ‘Ya Robbi ! bagaimana mungkin hal ini bisa
terjadi kepada mereka padahal mereka tidak berlapang dada ataupun berilmu?’
Allah SWT berfirman : ‘Ilmu dari sebagian sifatku.” (HQR. Ahmad, Thabarani
dalam Al-Kabir, Al-Ausath dan Al-Hakim, Abu Na’im, Hakim dan Baihaqi yang
bersumber dari Abid-Darda)
Dari ayat diatas
dijelaskan bahwa setelah periode beliau, akan dilahirkan suatu umat yang
apabila memperoleh kenikmatan, mereka bersyukur tapi jika mereka mengalami
kesulitan mereka tetap ikhlas dan sabar.
Umat ini memiliki keistimewaan
dari Nabi Muhammad SAW. Yang disebutkan didalam Al-Qur’an sebagai berikut:
“Kalian adalah umat
yang paling baik yang dilahirkan untuk kepentingan manusia, menyuruh
mengerjakan yang benar dan melarang mengerjakan yang salah, serta beriman
kepada Allah.” (Q.S Ali-Imron : 110)
Digambarkan oleh
Allah umat ini memiliki satu segi positif yaitu bersyukur dan bersabar tapi di
sisi lain umat ini memiliki sifat negatif yaitu tidak berlapang dada dan tidak
berilmu. Namun kekurangan dari sifat-sifat ini tidak menghalanginya karena
Allah memberikan karunia dan rahmatnya berupa ilmu pengetahuan.
Sifat lapang dada dan
berilmu tidak bisa kita miliki dengan begitu mudahnya, sifat ini kita dapatkan
dari suatu proses latihan dan pembelajaran dalam memperdalam ilmu yang telah
dijelaskan bahwa ilmu merupakan sebagian dari sifat Allah SWT.
Allah mengajarkan apa
saja hal-hal yang belum kita ketahui. Ini ditunjukkan dengan salah satu
firmannya dalam salah satu ayat sebagaimana berikut:
“Dan Dialah yang
mengajarkan tentang yang belum engkau ketahui, dan karunia Allah yang
dilimpahkannya kepada kamu sangatlah besar.” (Q.S An-Nisa :113)
Dengan kita
mengetahui bahwa Allah mengajarkan kita agar menjadi pribadi yang berlapang
dada. Maka, apakah sama seseorang yang telah mengetahui firman Allah ini dengan
mereka yang tidak mengetahuinya?
Hal ini pun telah
diterangkan di dalam Al-Qur’an sebagaimana berikut:
“Katakanlah: apakah
sama orang-orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?” (Q.S Az-Zumar:9)
“Dan orang-orang yang
mendalami ilmunya berkata: “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an ), semuanya dari
tuhan kami” (Q.S Ali-Imran : 7)
“Tetapi diantara
orang-orang yang mendalami ilmunya diantara mereka dan kaum Mu’minin, beriman
kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an).” (Q.S. An-Nisa:162)
Dari penjelasan yang
sedemikian rupa yang Allah firmankan kepada umatnya maka dapat kita ambil kesimpulan
bahwa Allah sudah memberikan kabar gembira kepada umat terdahulu tentang kedatangan
umat nabi Muhammad SAW. yang memiliki kedudukan utama dan pertama karena senang
menerima petunjuk dan pimpinan khaliqnya. Senang melaksanakan perintah dan
menjauhkan laranganya. mensyukuri nikmat yang diterima , tidak berputus asa ketika
dilanda musibah dan ujian, bersabar dan saling mengingatkan untuk bersabar,
berlapang dada, penyantun dan tidak cepat marah sehingga tidak selalu mengalami
rasa gelisah.
Apakah kamu termasuk
diantaranya?
No comments:
Post a Comment