Wednesday, 6 June 2018

Sabar Penentu Keikhlasan


Sabar adalah kekuatan pikiran yang positif untuk menghindarkan jiwa dari hal yang dibenci Allah. Sabar ini mendorong jiwa untuk memenuhi dan menunaikan segala kewajiban. Sesungguhnya sabar berat untuk dilakukan bagi mereka yang tidak memiliki jiwa yang taat, karena sabar sendiri terbagi ke dalam tiga kategori menahan diri. 

Sabar yang pertama adalah menahan diri dalam mentaati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Kemudian, sabar yang kedua adalah sabar dalam menjauhi dan  menghadapi segala hal-hal yang diharamkan Allah. Lalu yang terakhir, sabar terhadap takdir yang Allah putuskan untuk kita. Baik itu takdir baik ataupun menyakitkan. 

Cara kita menjauhi dari sifat mengeluh, sombong dan iri hati adalah dengan bersabar. Sering kali yang kita lakukan hanya hal-hal bodoh yang merusak jiwa. Mengeluh, mengeluh dan mengeluh.
Pernah kah kalian melihat Nabi Muhammad SAW. Mengeluh?

Kapankah Ia mengeluh?

Rasulullah SAW. Pernah mengalami sebuah kondisi yang jauh dari yang beliau inginkan. para kaum musyrikin mengabaikan seruannya dan juga mencampakan Al-Qur’an. Tetapi apa yang beliau lakukan? Ia  tetap sabar dan ikhlas.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 157 sebagai berikut:
“Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” 

Hal ini di sambung dengan firman Allah yang lain:
“Kecuali mereka yang telah tobat, mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran , maka terhadap mereka itulah yang aku terima tobatnya dan aku-lah yang maha penerima tobat, maha penyayang.” (Q.S.Al-Baqarah:160)

Sifat sabar ini membedakan kita sebagai manusia dengan seekor hewan. Apakah kalian ingin di samakan dengan hewan? Tidak bukan? Oleh sebab itu, bersabar akan menjadikan kita makhluk yang lebih baik dari hewan. Sebab, hewan tidak mampu untuk menahan diri menundukkan hawa nafsu tersebut.

Setelah sabar mampu kita jalani maka ikhlas dalam hati dan jiwa pun akan mengikuti langkah kemana akan pergi. Dengan sabar dan ikhlas yang tumbuh di dalam jiwa dan hati kita, kemudian rasa ingin melakukan kebaikan pun akan meningkat. Dalam hati akan tertanam rasa ingin memberi atau membantu orang lain. Kesemua itu akan menjadikan kita jauh sekali dari rasa mengeluh akan kehidupan dan segala ketentuan yang Allah berikan.

Sebagaimana firman Allah berikut ini:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya ,anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan, orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S Al-Baqarah:177)

Jika kita mengurangi kebiasaan mengeluh atau tidak mengeluh sama sekali, ini akan menjadi penyumbang rahmat-Nya pada kita.

Marilah membiasakan diri untuk tidak mengeluh . apapun yang terjadi pada anda tidak penting tapi belajarlah untuk menjadi manusia yang berfikir cerdas dan berusaha ikhlas mencari solusi dari segala masalah secara tuntas. Yang paling terpenting adalah apa yang akan, mau atau dilakukan terhadap apa yang terjadi kepada kita saat ini.

Betapa indahnya dan tentramnya hidup kita jika dihiasi dengan sifat sabar dan ikhlas dalam segala situasi dan kondisi. apalagi bila kebaikan ini ditambah dan dilengkapi dengan sifat lainnya juga. Sungguh luar biasa dahsyatnya.


No comments:

Post a Comment

Yuk, mulai bersyukur!!

Setiap manusia adalah cobaan bagi manusia lainnya. Kita diberikan kehidupan agar  mampu melihat nikmat dari segala sisi. kehidupan layak...