Sabar adalah
kekuatan pikiran yang positif untuk menghindarkan jiwa dari hal yang dibenci
Allah. Sabar ini mendorong jiwa untuk
memenuhi dan menunaikan segala kewajiban. Sesungguhnya sabar berat untuk
dilakukan bagi mereka yang tidak memiliki jiwa yang taat, karena sabar sendiri
terbagi ke dalam tiga kategori menahan diri.
Sabar yang
pertama adalah menahan diri dalam mentaati segala perintah Allah dan menjauhi
segala larangannya. Kemudian, sabar yang kedua adalah sabar dalam menjauhi
dan menghadapi segala hal-hal yang
diharamkan Allah. Lalu yang terakhir, sabar terhadap takdir yang Allah putuskan
untuk kita. Baik itu takdir baik ataupun menyakitkan.
Cara kita
menjauhi dari sifat mengeluh, sombong dan iri hati adalah dengan bersabar.
Sering kali yang kita lakukan hanya hal-hal bodoh yang merusak jiwa. Mengeluh,
mengeluh dan mengeluh.
Pernah kah
kalian melihat Nabi Muhammad SAW. Mengeluh?
Kapankah Ia
mengeluh?
Rasulullah SAW.
Pernah mengalami sebuah kondisi yang jauh dari yang beliau inginkan. para kaum
musyrikin mengabaikan seruannya dan juga mencampakan Al-Qur’an. Tetapi apa yang
beliau lakukan? Ia tetap sabar dan
ikhlas.
Allah berfirman
di dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 157 sebagai berikut:
“Mereka itulah
yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan-nya, dan mereka itulah orang-orang
yang mendapat petunjuk.”
Hal ini di sambung
dengan firman Allah yang lain:
“Kecuali mereka
yang telah tobat, mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran , maka terhadap mereka itulah yang aku terima tobatnya dan aku-lah yang maha penerima tobat, maha penyayang.”
(Q.S.Al-Baqarah:160)
Sifat sabar ini
membedakan kita sebagai manusia dengan seekor hewan. Apakah kalian ingin di
samakan dengan hewan? Tidak bukan? Oleh sebab itu, bersabar akan menjadikan
kita makhluk yang lebih baik dari hewan. Sebab, hewan tidak mampu untuk menahan
diri menundukkan hawa nafsu tersebut.
Setelah sabar
mampu kita jalani maka ikhlas dalam hati dan jiwa pun akan mengikuti langkah
kemana akan pergi. Dengan sabar dan ikhlas yang tumbuh di dalam jiwa dan hati kita,
kemudian rasa ingin melakukan kebaikan pun akan meningkat. Dalam hati akan
tertanam rasa ingin memberi atau membantu orang lain. Kesemua itu akan
menjadikan kita jauh sekali dari rasa mengeluh akan kehidupan dan segala
ketentuan yang Allah berikan.
Sebagaimana
firman Allah berikut ini:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari akhir,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabatnya ,anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan, orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya,
yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji
apabila berjanji, dan orang-orang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S Al-Baqarah:177)
Jika kita
mengurangi kebiasaan mengeluh atau tidak mengeluh sama sekali, ini akan menjadi
penyumbang rahmat-Nya pada kita.
Marilah
membiasakan diri untuk tidak mengeluh . apapun yang terjadi pada anda tidak
penting tapi belajarlah untuk menjadi manusia yang berfikir cerdas dan berusaha
ikhlas mencari solusi dari segala masalah secara tuntas. Yang paling terpenting
adalah apa yang akan, mau atau dilakukan terhadap apa yang terjadi kepada
kita saat ini.
Betapa indahnya
dan tentramnya hidup kita jika dihiasi dengan sifat sabar dan ikhlas dalam
segala situasi dan kondisi. apalagi bila kebaikan ini ditambah dan dilengkapi
dengan sifat lainnya juga. Sungguh luar biasa dahsyatnya.
No comments:
Post a Comment